Di tengah percepatan digitalisasi pendidikan nasional yang dicanangkan pada tahun 2026, kesenjangan infrastruktur masih menjadi persoalan pelik di beberapa wilayah Indonesia Timur, termasuk di Kabupaten Banggai. Fokus utama permasalahan ini dirasakan langsung oleh warga sekolah di SMPN 1 Luwuk, di mana keterbatasan Akses internet yang stabil menjadi tembok penghalang besar dalam mengimplementasikan metode belajar daring secara maksimal. Meskipun kurikulum menuntut siswa untuk akrab dengan platform digital, realitas di lapangan menunjukkan bahwa konektivitas yang minim sering kali melumpuhkan semangat eksplorasi literasi digital para peserta didik di wilayah tersebut.
Kondisi geografis Luwuk yang berbukit dan berada di pesisir memberikan tantangan teknis tersendiri bagi penyedia layanan telekomunikasi. Di SMPN 1 Luwuk, sinyal internet sering kali timbul tenggelam, terutama saat cuaca buruk atau pada jam-jam sibuk di mana penggunaan data meningkat tajam. Hambatan ini berdampak langsung pada efektivitas pemberian tugas melalui Learning Management System (LMS). Banyak siswa yang mengeluh tidak bisa mengunggah tugas tepat waktu atau gagal mengikuti ujian berbasis web karena koneksi yang terputus secara tiba-tiba. Ketidaksiapan infrastruktur ini menciptakan ketidakadilan akses informasi bagi siswa di Luwuk dibandingkan dengan rekan mereka di kota-kota besar.
Selain masalah teknis, hambatan internet minim ini juga memicu beban finansial tambahan bagi orang tua siswa. Karena wifi sekolah sering kali tidak mampu menampung beban ratusan pengguna secara bersamaan, siswa terpaksa mengandalkan kuota data pribadi yang harganya tidak murah. Bagi keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah di Luwuk, biaya pembelian pulsa internet demi menunjang belajar online menjadi pengeluaran yang sangat terasa memberatkan. SMPN 1 Luwuk menyadari dilema ini dan sering kali harus mengambil kebijakan kompromi, seperti mengizinkan pengumpulan tugas secara luring atau manual guna memastikan tidak ada siswa yang tertinggal hanya karena masalah sinyal.
Hambatan akses ini juga memengaruhi kualitas pengajaran guru di SMPN 1 Luwuk. Para pendidik yang sudah dilatih menggunakan berbagai media interaktif digital sering kali merasa frustrasi ketika video pembelajaran yang mereka siapkan tidak bisa diputar dengan lancar di kelas. Akibat internet minim, proses belajar kembali ke metode konvensional yang lebih banyak mengandalkan ceramah dan buku cetak. Padahal, esensi dari Kurikulum Merdeka adalah pemanfaatan teknologi untuk memperluas cakrawala berpikir siswa. Keterbatasan ini membuat guru di Luwuk harus memutar otak lebih keras untuk menciptakan alat peraga manual yang tetap menarik namun tidak bergantung pada kestabilan jaringan internet.