Kesehatan reproduksi dan kesadaran akan ancaman penyakit tumor ganas merupakan materi yang sangat krusial untuk diberikan kepada remaja putri sejak dini. Di tengah meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia, pemahaman mengenai pencegahan menjadi jauh lebih berharga daripada pengobatan di masa depan. Institusi pendidikan di Sulawesi Tengah mengambil langkah berani untuk memasukkan literasi kesehatan ini ke dalam agenda pembinaan kesiswaan. Melalui edukasi SADANIS, sekolah berupaya membekali para siswi dengan pengetahuan teknis mengenai pemeriksaan medis yang dilakukan oleh tenaga profesional guna mengidentifikasi adanya kelainan pada jaringan tubuh secara prematur.
Langkah preventif ini didasari oleh fakta medis bahwa penanganan penyakit pada stadium awal memiliki tingkat keberhasilan penyembuhan yang jauh lebih tinggi. Di SMPN 1 Luwuk, sosialisasi ini dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas setempat untuk memberikan penjelasan yang akurat dan santun. Para siswi diajarkan perbedaan antara pemeriksaan mandiri di rumah (SADARI) dan pemeriksaan klinis yang dilakukan oleh bidan atau dokter (SADANIS). Dengan memahami prosedur medis ini, diharapkan rasa takut atau tabu yang sering kali muncul di tengah masyarakat dapat dihilangkan, sehingga kesadaran untuk melakukan deteksi dini menjadi bagian dari gaya hidup sehat remaja putri di wilayah Luwuk.
Ancaman kanker payudara bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan mental dan psikologis seseorang. Oleh karena itu, sekolah memberikan lingkungan yang suportif agar para siswi merasa nyaman untuk bertanya mengenai perubahan fisik yang mereka alami selama masa pubertas. Penjelasan mengenai faktor risiko, seperti pola makan yang tidak sehat, paparan zat kimia, hingga faktor genetik, menjadi bahasan utama dalam setiap sesi pertemuan. Guru-guru di SMPN 1 Luwuk menekankan bahwa mencintai diri sendiri berarti peduli terhadap setiap perubahan kecil yang terjadi pada tubuh. Edukasi ini juga mencakup pentingnya mengonsumsi makanan berserat dan menghindari gaya hidup sedenter yang dapat memicu ketidakseimbangan hormon.
Selain aspek medis, program ini juga bertujuan untuk membangun kemandirian siswa dalam mengambil keputusan terkait kesehatan mereka. Siswa diajarkan bahwa mereka memiliki hak atas pelayanan kesehatan yang berkualitas dan tidak perlu merasa malu untuk berkonsultasi dengan tenaga ahli. Melalui penyampaian informasi yang SMPN 1 Luwuk berikan, diharapkan para siswi dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga mereka, dengan mengajak ibu atau saudara perempuan mereka untuk turut serta melakukan pemeriksaan rutin. Transformasi perilaku dari sikap abai menjadi waspada merupakan target utama dari literasi kesehatan yang dijalankan secara konsisten di lingkungan sekolah menengah pertama ini.