Di era disrupsi informasi saat ini, kemampuan untuk membedakan antara fakta dan opini menjadi keterampilan yang sangat krusial bagi generasi muda. Fenomena penyebaran kabar bohong yang begitu masif di media sosial menuntut adanya sistem imun intelektual sejak dini. Inilah yang melatarbelakangi penguatan program Jurnalisme Sekolah sebagai wadah bagi para pelajar untuk belajar mencari, mengolah, dan menyajikan informasi secara akurat dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar cara menulis berita, tetapi juga memahami etika komunikasi dan pentingnya melakukan verifikasi data sebelum sebuah informasi disebarkan ke khalayak luas.
Langkah berani diambil oleh Tim Media SMPN 1 Luwuk yang memposisikan diri mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga kebersihan ruang informasi di lingkungan pendidikan mereka. Para jurnalis muda ini dibekali dengan kemampuan dasar investigasi sederhana untuk memeriksa kebenaran sebuah kabar yang sedang viral. Mereka belajar bagaimana melakukan wawancara dengan narasumber yang kredibel, mencari sumber referensi yang valid, hingga memahami teknik fact-checking atau periksa fakta. Inisiatif ini membuktikan bahwa anak usia menengah pertama sudah mampu berpikir kritis dan tidak mudah terombang-ambing oleh narasi-narasi provokatif yang sering muncul di grup-grup percakapan digital.
Salah satu misi utama dari kelompok ekstrakurikuler ini adalah berupaya Bongkar Berita Hoaks yang seringkali meresahkan warga sekolah maupun masyarakat sekitar. Mereka membuat rubrik khusus di majalah dinding digital maupun akun media sosial sekolah untuk mengklarifikasi isu-isu yang terbukti tidak benar, mulai dari info penculikan anak yang tidak berdasar hingga hoaks mengenai kebijakan sekolah. Dengan gaya bahasa yang santai namun tetap tajam, para siswa ini memberikan edukasi kepada teman sebaya dan orang tua mengenai ciri-ciri berita palsu, seperti judul yang bombastis atau sumber yang tidak jelas. Tindakan preventif ini sangat efektif dalam menekan tingkat kepanikan dan penyebaran informasi sesat di komunitas lokal.
Kesadaran akan pentingnya literasi media di wilayah Luwuk ini memberikan dampak positif bagi iklim belajar di sekolah. Siswa menjadi lebih berhati-hati dalam membagikan konten dan lebih kritis dalam menyikapi setiap unggahan yang mereka lihat. Pihak sekolah mendukung penuh kegiatan ini dengan menyediakan fasilitas ruang redaksi mini dan perangkat dokumentasi yang memadai. Guru pembimbing berperan sebagai editor senior yang mengarahkan agar setiap konten yang diproduksi tetap mematuhi kode etik jurnalistik meskipun dalam skala yang sederhana. Keberhasilan tim media ini dalam menjernihkan informasi di daerahnya telah mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari jurnalis profesional di Sulawesi Tengah.