Perubahan paradigma evaluasi pendidikan dari Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) menandai evolusi penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Persiapan Ujian Nasional (Asesmen Kompetensi Minimum) kini menuntut siswa untuk fokus pada AKM dan bukan UN, karena kedua instrumen ini mengukur hal yang fundamental berbeda. UN berfokus pada penguasaan konten mata pelajaran yang bersifat hafalan, sementara AKM menilai kompetensi dasar yang sangat dibutuhkan di abad ke-21: literasi membaca dan numerasi. Pergeseran ini, yang diresmikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada awal tahun 2020, mengharuskan guru, siswa, dan orang tua mengubah strategi belajar dari pengejaran skor ke pembangunan keterampilan bernalar.
Untuk berhasil dalam Asesmen Kompetensi Minimum, siswa harus mengembangkan pemahaman yang mendalam, bukan sekadar kemampuan menghafal. Bagian Literasi dalam AKM mengukur kemampuan siswa dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks. Ini berarti siswa dihadapkan pada teks fiksi, ilmiah, atau informatif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan ditantang untuk menarik kesimpulan logis dari informasi yang disajikan. Misalnya, soal AKM dapat meminta siswa menganalisis data lingkungan yang disajikan dalam sebuah artikel berita atau membandingkan dua sudut pandang berbeda mengenai isu sosial.
Di sisi lain, Numerasi dalam AKM mengukur kemampuan siswa dalam bernalar menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah kontekstual. Ini bukan tentang memecahkan soal matematika yang rumit di buku, melainkan tentang mengaplikasikan konsep matematika (seperti rasio, persentase, atau statistik) dalam skenario nyata, seperti menghitung anggaran, menganalisis grafik harga, atau memprediksi risiko. Laporan hasil uji coba AKM yang dirilis oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pada tanggal 10 April 2025 menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa dengan soal kontekstual memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi.
Strategi belajar yang efektif untuk fokus pada AKM dan bukan UN harus melibatkan simulasi kasus nyata dan proyek berbasis masalah. Daripada menghabiskan waktu dengan soal pilihan ganda berbasis hafalan, siswa harus dilatih untuk menganalisis infografis, menafsirkan tabel, dan menyusun argumen yang didukung bukti. Sekolah perlu memfasilitasi lingkungan yang mendorong penalaran. Sebagai contoh, perpustakaan sekolah mungkin mengadakan sesi critical reading setiap hari Kamis, 28 Agustus 2026, pada pukul 15.00 WIB, menggunakan soal-soal berbasis AKM sebagai bahan diskusi.
Pada akhirnya, keberhasilan persiapan Ujian Nasional (Asesmen Kompetensi Minimum) terletak pada perubahan mindset. AKM menilai bagaimana siswa menggunakan pengetahuannya, sebuah indikator yang jauh lebih baik untuk mengukur kesiapan mereka menghadapi tantangan belajar di jenjang selanjutnya maupun di dunia kerja.