Kekayaan tradisi lisan merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga agar tidak luntur tergerus zaman. Di SMPN 1 Luwuk, upaya untuk menghidupkan kembali narasi lokal dilakukan melalui berbagai program literasi budaya yang menyasar para generasi muda. Cerita rakyat bukan hanya sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan mengandung nilai-nilai moral, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk jati diri masyarakat Banggai. Dalam proses pembentukan karakter ini, siswa juga diajak untuk meneladani pejuang lokal agar memiliki semangat juang dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan masa depan. Melalui upaya melestarikan cerita rakyat, sekolah berupaya memastikan bahwa setiap anak memiliki kebanggaan terhadap warisan budaya daerah mereka sendiri sebagai pondasi kepribadian yang kuat.
Pentingnya cerita rakyat dalam dunia pendidikan terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan moral secara implisit dan menyenangkan. Di SMPN 1 Luwuk, kisah-kisah legendaris dari tanah Luwuk dan sekitarnya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Budaya. Siswa tidak hanya membaca teks, tetapi juga menganalisis karakter tokoh dan latar belakang sejarah yang menyertainya. Dengan memahami asal-usul sebuah nama tempat atau tradisi melalui cerita rakyat, siswa merasa lebih terhubung secara emosional dengan tanah kelahiran mereka. Hubungan emosional inilah yang menjadi kunci utama agar budaya lokal tetap hidup dan relevan di tengah kepungan informasi global yang serba instan.
Salah satu metode inovatif yang diterapkan adalah digitalisasi melestarikan cerita rakyat. Siswa didorong untuk mengubah teks cerita lama menjadi format yang lebih modern, seperti naskah drama pendek, podcast, hingga video animasi sederhana. Proses ini melatih kreativitas sekaligus kemampuan teknologi informasi para siswa. Dengan mengemas cerita tradisional ke dalam format digital, jangkauan penyebarannya menjadi lebih luas dan lebih mudah diterima oleh rekan sebaya. SMPN 1 Luwuk membuktikan bahwa teknologi bukan merupakan ancaman bagi tradisi, melainkan alat yang sangat ampuh untuk mendistribusikan nilai-nilai luhur kepada khalayak yang lebih luas di era internet.
Selain digitalisasi, kegiatan mendongeng atau storytelling secara langsung juga rutin diadakan dalam acara-acara sekolah. Kegiatan ini melatih keberanian siswa untuk tampil di depan umum dan mengasah kemampuan retorika mereka. Saat seorang siswa membawakan cerita rakyat dengan ekspresi dan intonasi yang tepat, ia sedang belajar seni berkomunikasi sekaligus menjadi agen pelestari budaya. Penonton yang merupakan sesama siswa pun mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari sekadar membaca buku teks. Suasana yang tercipta dalam sesi mendongeng membangun rasa kebersamaan dan persaudaraan melalui kesamaan akar budaya yang mereka miliki.